Esok kan lebih baik

faldomaldini:

Kesedihan hari ini, bisa saja jadi bahagia esok hari.

Walau kadang kenyataan tak selalu seperti apa yang diinginkan

Keyakinan, membuat bertahan.

Keyakinan pada-Nya, menjadikan ku tenang

Hidup yang dijalani, masalah yang dihadapi.

Semua yang terjadi, pasti ada hikmahnya.

Ku kan terus berjuang, ku kan terus bermimpi.

Tuk hidup yang lebih baik, tuk hidup yang lebih indah

:)

Menggoda sekali liriknya.

Guy Berryman in A Sky Full of Stars

This is my Guy for My Berry and My Man. Hoping, when in Amster can see him. Playing his bass and turning around the town.

Doing like a weird but you like it for do it! Yes, it is me.

Saya vampire weekend!

Saya vampire weekend!

Reblogged from

coldplayspace:

New Song ‘Another’s Arms’ Studio Version for the new album Ghost Stories. Coldplay - 

birdfingers:

here is some sigur ros game of thrones fanart enjoy

birdfingers:

here is some sigur ros game of thrones fanart enjoy

Reblogged from tumbl rós

Coldplay gif challenge » [2/2] b-sides: Crests of Waves

Coldplay is the best group band ever i see! Need Guy Berryman!

Masya allah Akang Chris Martin

Haruskah (?)

Sebenernya ini sekedar unek unek ato risalah hati belaka sih. Sederhana tapi penting, ya itu menurut saya. Cerita apa enaknya? Yuks mulai cerita.

Ceritanya berawal di penempatan dinas profesi, bilang saja itu ruangan IGD. Beberapa hari dinas di tempat itu, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa yang berkuasa yang duluan. Artinya adalah siapa yg punya banyak uang, jabatan, dan koneksi itulah yang duluan untuk dilayanin. Hal ini ngga cuma saya lihat satu atau dua kasus saja tetapi ya katakan saja semuanya.

IGD menurut saya adalah sebuah ruangan yang penuh dengan orang berbagai macam tindakan kesehatan dan bermacam nyawa ada disana, yup hidup dan mati. Kalau kita membicarakan hidup dan mati pasti hampir 100% jawabannya adalah urusan Tuhan, saya pun termasuk orang yang percaya dengan itu. Tetapi di IGD saya terkadang masih suka bertanya apakah itu memang kehendak Tuhan atau memang kesalahan dari manusia-manusia yg bekerja di IGD? Termasuk saya sih.

Contoh kejadian yang menurut saya sangat tidak manusiawi adalah seorang ibu S katakan saja seperti itu datang ke IGD dengan maksud dapat disembuhkan penyakitnya, mengalami sesak napas sejak 2 minggu lalu, bengkak pada bagian kaki. Masuk IGD langsung di pasang monitor, di monitor tertulis semuanya mengalami gangguan. Tidak hanya monitor tetapi hasil cek darah pun mengatakan hal yang sama. Ibu S datang sejak pagi, dan hanya diberikan oksigen 8L/ mnit, larutan NaCl 0,9% dan bicnat. Hanya itu saja. Bisa kalian banyangkan sudah 11 jam ibu itu hanya diberikan itu saja. Saya datang pun suara monitor sudah gaduh dan bertuliskan “asistol” tetapi tidak ada satu dokter dan perawat pun yang datang untuk memantaunya.

Ya, singkat cerita memang ibu S ini adalah pekerja serabutan, selama di IGD dia hanya ditemani oleh anak dan suaminya yang sudah renta. Beberapa kali saya melakukan interaksi dengan keluarga tersebut anaknya kira kira usia 14 tahun dibawa oleh bapaknya karena hanya anak tersebut yang bisa baca dan menulis. Bapak itu berkata “saya takut ngga ngerti, kalo ada omongan dokter”

Miris memang melihat hal tersebut. Sekitar jam 12 malam ibu itu sudah mengalami penurunan kesadaran, kemudian saya melaporkan hal tersebut kepada dokter. Saya menjelaskan semua hasil observasi saya kepada dokter itu, tetapi dokter itu hanya memeriksa saja (auskutrasi) untuk mendengarkan dan mencatat hasil “ronchi basah” setelahnya tidak ada tindakan.

Kemudian jam 4 pagi, ibu itu sudah sangat gelisah. Dokter hanya berteriak teriak kepada keluarga untuk melakukan persetujuan tindakan intubasi. Saya ingat betul perkataan doketr tersebut dengan nada tinggi “bapak! Ibunya itu kalo tidak cepet dipasang selang nanti ibunya henti napas. Saya tidak bertanggung jawab kalo ibunya henti napas!” dengan muka yg bingung suami dan anak ibu itu hanya bisa tercengang dan mengangguk. Kemudian sang anak bilang kepada bapaknya “udah pak setuju aja, takut ibu kenapa kenapa” akhirnya bapak itu dituntun untuk tanda tangan walaupun iya tak bisa tanda tangan untuk surat persetujuannya. Sebeneranya bukan mereka tidak mau tetapi mereka menunggu sanak saudara yang mengerti tentang hal ini. hal tersebut menurut saya tidak pantas dilakukan oleh seorang dokter. Mengapa?

Karena dokter itu yang membuat keadaan ibu itu semakin drop, kenapa tidak dipantau sejak ditemukan kejanggalan itu? Kenapa bukan dari kemarin diberitahukan dengan pelan resiko resiko yang terjadi. Saya yakin, dokter itu tidak tutup mata bahwa keluarga ibu itu merupakan keluarga yang kurang mampu. Kenapa dokter itu tidak memperlakukannya dengan baik? Jika penanganannya baik dan maksimal saya yakin ibu itu akan membaik.

Kemudian setelah mendapatkan alat yang ditebus jauh jauh dari apotek hingga si bapak tergelincir, dokter itu malahan menunda pekerjaan intubasi, dengan alasan masih ada yg dikerjakan. Padahal kerjaannya hanya menelpon konsulen dan mencatat pendokumentasian yang saya kira itu bisa di tunda. Ya bayangkan lagi deh tanda tangan lembar persetujuan jam 5 pagi tp tindakan jam 10 pagi. Alhasil nyawa ibu itu tidak tertolong. Nasib?

Jika dibandingkan dengan cerita saya satu lagi adalah ada seorang bapak tergulai lemah masuk IGD, kemudian dia segera para dokter dan perawat menanganin ya, ya katakan saya dia adalah orang tua dari letnan kolonel. Kemudian ada seprang bapak dengan kasus yg sama langsung ditangani karena bapak itu adalah ipar dari pejabat tinggi RS tersebut.

Satu lagi, saya jadi tidak begitu yakin dengan dokter di Indonesia kalau bukan lulusan dari universitas yg sama seperti saya. Karena jaman sekarang banyak yang mau jadi dokter karena gengsi. Bangga jadi dokter yg minim ilmu?

Jadi banyak hal yang saya pelajari dari ini semuanya, semoga saya dapat bekerja dengan hati bukan dengan pikiran. Semoga cerita ini hanya terjadi di IGD saya dinas dan hanya ada pas kemarin saja. Aaammiin.

Tanyakan padaku