Masya allah Akang Chris Martin

Haruskah (?)

Sebenernya ini sekedar unek unek ato risalah hati belaka sih. Sederhana tapi penting, ya itu menurut saya. Cerita apa enaknya? Yuks mulai cerita.

Ceritanya berawal di penempatan dinas profesi, bilang saja itu ruangan IGD. Beberapa hari dinas di tempat itu, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa yang berkuasa yang duluan. Artinya adalah siapa yg punya banyak uang, jabatan, dan koneksi itulah yang duluan untuk dilayanin. Hal ini ngga cuma saya lihat satu atau dua kasus saja tetapi ya katakan saja semuanya.

IGD menurut saya adalah sebuah ruangan yang penuh dengan orang berbagai macam tindakan kesehatan dan bermacam nyawa ada disana, yup hidup dan mati. Kalau kita membicarakan hidup dan mati pasti hampir 100% jawabannya adalah urusan Tuhan, saya pun termasuk orang yang percaya dengan itu. Tetapi di IGD saya terkadang masih suka bertanya apakah itu memang kehendak Tuhan atau memang kesalahan dari manusia-manusia yg bekerja di IGD? Termasuk saya sih.

Contoh kejadian yang menurut saya sangat tidak manusiawi adalah seorang ibu S katakan saja seperti itu datang ke IGD dengan maksud dapat disembuhkan penyakitnya, mengalami sesak napas sejak 2 minggu lalu, bengkak pada bagian kaki. Masuk IGD langsung di pasang monitor, di monitor tertulis semuanya mengalami gangguan. Tidak hanya monitor tetapi hasil cek darah pun mengatakan hal yang sama. Ibu S datang sejak pagi, dan hanya diberikan oksigen 8L/ mnit, larutan NaCl 0,9% dan bicnat. Hanya itu saja. Bisa kalian banyangkan sudah 11 jam ibu itu hanya diberikan itu saja. Saya datang pun suara monitor sudah gaduh dan bertuliskan “asistol” tetapi tidak ada satu dokter dan perawat pun yang datang untuk memantaunya.

Ya, singkat cerita memang ibu S ini adalah pekerja serabutan, selama di IGD dia hanya ditemani oleh anak dan suaminya yang sudah renta. Beberapa kali saya melakukan interaksi dengan keluarga tersebut anaknya kira kira usia 14 tahun dibawa oleh bapaknya karena hanya anak tersebut yang bisa baca dan menulis. Bapak itu berkata “saya takut ngga ngerti, kalo ada omongan dokter”

Miris memang melihat hal tersebut. Sekitar jam 12 malam ibu itu sudah mengalami penurunan kesadaran, kemudian saya melaporkan hal tersebut kepada dokter. Saya menjelaskan semua hasil observasi saya kepada dokter itu, tetapi dokter itu hanya memeriksa saja (auskutrasi) untuk mendengarkan dan mencatat hasil “ronchi basah” setelahnya tidak ada tindakan.

Kemudian jam 4 pagi, ibu itu sudah sangat gelisah. Dokter hanya berteriak teriak kepada keluarga untuk melakukan persetujuan tindakan intubasi. Saya ingat betul perkataan doketr tersebut dengan nada tinggi “bapak! Ibunya itu kalo tidak cepet dipasang selang nanti ibunya henti napas. Saya tidak bertanggung jawab kalo ibunya henti napas!” dengan muka yg bingung suami dan anak ibu itu hanya bisa tercengang dan mengangguk. Kemudian sang anak bilang kepada bapaknya “udah pak setuju aja, takut ibu kenapa kenapa” akhirnya bapak itu dituntun untuk tanda tangan walaupun iya tak bisa tanda tangan untuk surat persetujuannya. Sebeneranya bukan mereka tidak mau tetapi mereka menunggu sanak saudara yang mengerti tentang hal ini. hal tersebut menurut saya tidak pantas dilakukan oleh seorang dokter. Mengapa?

Karena dokter itu yang membuat keadaan ibu itu semakin drop, kenapa tidak dipantau sejak ditemukan kejanggalan itu? Kenapa bukan dari kemarin diberitahukan dengan pelan resiko resiko yang terjadi. Saya yakin, dokter itu tidak tutup mata bahwa keluarga ibu itu merupakan keluarga yang kurang mampu. Kenapa dokter itu tidak memperlakukannya dengan baik? Jika penanganannya baik dan maksimal saya yakin ibu itu akan membaik.

Kemudian setelah mendapatkan alat yang ditebus jauh jauh dari apotek hingga si bapak tergelincir, dokter itu malahan menunda pekerjaan intubasi, dengan alasan masih ada yg dikerjakan. Padahal kerjaannya hanya menelpon konsulen dan mencatat pendokumentasian yang saya kira itu bisa di tunda. Ya bayangkan lagi deh tanda tangan lembar persetujuan jam 5 pagi tp tindakan jam 10 pagi. Alhasil nyawa ibu itu tidak tertolong. Nasib?

Jika dibandingkan dengan cerita saya satu lagi adalah ada seorang bapak tergulai lemah masuk IGD, kemudian dia segera para dokter dan perawat menanganin ya, ya katakan saya dia adalah orang tua dari letnan kolonel. Kemudian ada seprang bapak dengan kasus yg sama langsung ditangani karena bapak itu adalah ipar dari pejabat tinggi RS tersebut.

Satu lagi, saya jadi tidak begitu yakin dengan dokter di Indonesia kalau bukan lulusan dari universitas yg sama seperti saya. Karena jaman sekarang banyak yang mau jadi dokter karena gengsi. Bangga jadi dokter yg minim ilmu?

Jadi banyak hal yang saya pelajari dari ini semuanya, semoga saya dapat bekerja dengan hati bukan dengan pikiran. Semoga cerita ini hanya terjadi di IGD saya dinas dan hanya ada pas kemarin saja. Aaammiin.

Tanyakan padaku
Jangan pikirkan kekalahan, pikirkan dulu perlawanan yang sebaik mungkin, sehormat mungkin.
Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia (via kuntawiaji)

Hoosh!

Reblogged from Kuntawiaji
Happy Birthday Sigur Ros! You are the best musician! Will you make a one great rocking night? Hope so! 20years old!

Happy Birthday Sigur Ros! You are the best musician! Will you make a one great rocking night? Hope so! 20years old!

Happy Birthday Remedy Waloni. Hann var fyrst ástin mín.

Happy Birthday Remedy Waloni. Hann var fyrst ástin mín.

nevver:

Looking up

That why i love photograph! They can be magic! Good damn! Sumpah! Ini genius abis!

Reblogged from this isn't happiness.

Love Love Love

I love myself
I love my mother’s food
I love the black keys
I love John Mayers
I love Sigur Rós
I love Jónsi
I love Ikuta Toma
I love Kim Jonghyu
I love the Kveikur’s album
I love coffee
I love when my mother caring of me
I love when my mom hugging of me
I love when my mother calling of me by phone
I love Djenar Maesa Ayu’s book
I love mountain
I love the nature
I love backpacker
I love doing weird thing
I love when he asking my day
I love listening to the music
I love watching television all day long
I love the people who maybe hating me
I love tea
I love the blue sky
I love when my father driving me safely
I love psychiatric nursing
I love children
I love chocolate
I love aromatherapy
I love my friend
I love when the bad boy doing shaving his mustache
I love when he making contact eyes with me
I love the ocean
I love sunset
I love sunrise
I love when myself could be useful for other people
I love the anti mainstream thinking
I love comedy romantic movie
I love the romantic thing
I love bohemian’s style
I love unique decoration
I love when my friend tell about their love story to me
I love the different things
I love the woman using the black dress
I love the blue color
I love Indonesian food
I love Photography
I love drawing
I love green tea
I love water
I love spring session
I love the warm of whether
I love my be room
I love my coping when i getting stress
I love his way when thinking of me
I love when he teasing me
I love traveling
I love iceland
I love hopelandic language
I love when my lecture never giving me many task
I love listening to music
I love sleeping in my bed all day long
I love the sound of guitar acoustic
I love when i could see a apple’s tree
I love new experience
I love new challenge
I love new situation
I love the different thing from people
I love characteristic of many people
I love watching a live music concert
I love jazz music
I love books
I love F.R.I.E.N.D.S
I love family modern
I love when i could find a new love
I love being happy
I love stop motion animation
I love browsing on the internet
I love the people who underestimate me
I love team work
I love when myself wasn’t alone
I love the family man
I love my mind
I love when i was in the airplane
I love coldplay
I love muse
I love disney character
I love Remedy Waloni
I love being a nurse
I love when the doctor or a nurse doing CPR
I love white sand
I love laruku
I love Bedah Kampus UI
I love organization
I love the Indonesian culture
I love white roses
I love being energetic girls
…..
….

..
.
The last, eemmmh I love… You!